Friday, January 29, 2016

METODE PENGUATAN QUADRICEPS OPEN DAN CLOSED KINETIC CHAIN


KINETIC CHAIN


Konsep kinetic chain (rangkaian gerak) dikenalkan pada tahun 1875 oleh Franz Reuleaux, beliau menyatakan bahwa rangkaian dari beberapa segmen yang saling berhubungan melalui persendian akan menciptakan suatu sistem gerak persendian, dimana pergerakan pada satu sendi diikuti oleh pergerakan sendi lainnya dalam suatu rangkaian gerak (kinetic chain). Pada tahun 1955 pernyataan tersebut diadaptasi oleh Dr Arthur Steindler kedalam pergerakan tubuh manusia dan kemudian membaginya dengan 2 jenis rangkaian gerak (kinetic chain) yakni Open Kinetic Chain dan Closed Kinetic Chain
Closed Kinetic Chain  (CKC) ditandai dengan adanya pergerakan segmen proximal dari persendian sedangkan segmen distal tidak bergerak (fixed), rangkaian gerak ini terjadi ketika seseorang melakukan ekstensi lutut dalam aktivitas jongkok-berdiri (standing squat). 
Sebaliknya pada Open Kinetic Chain (OKC) ditandai dengan pergerakan segmen distal persendian sedangkan segmen proximal tidak terjadi pergerakan (fixed), rangkaian gerakan ini terjadi pada saat seseorang mengayunkan tungkai bawah dalam melakukan swing phase saat berjalan dan banyak di contohkan pada gerakan latihan leg ekstension (Ellenbecker dan Davies, 2001). 
Aktivasi grup otot quadriceps dengan metode Closed Kinetic Chain lebih serentak atau berbarengan (simultaneously) dibanding metode Open Kinetic Chain, serta  didapatkan daya kontraksi vastus medial oblique (VMO) signifikan lebih besar pada penggunaan metode CKC (46±43% Maximal Voluntary Contraction) dibanding dengan penggunaan metode OKC (40±30% MVC), keseimbangan aktivasi grup otot quadriceps diperoleh pada penggunaan metode CKC dibanding OKC, hal ini penting untuk diketahui dalam merancang program latihan yang melibatkan kontrol sendi patellofemoral (Stensdotter et al, 2003).
leg extension (open kinetic chain)

squat (closed kinetic chain)


Penelitian yang dilakukan oleh Stensdotter et al ditemukan perbedaan aktivasi antar grup otot Quadriceps, dimana pada Closed Kinetic Chain aktivasi grup otot Quadriceps lebih serentak dibanding Open Kinetic Chain, selain itu aktivitas Vastus Medial Oblique (VMO) signifikan lebih besar dibanding dengan Open Kinetic Chain, sehingga pemberian metode Closed Kinetic Chain lebih ditujukan untuk penguatan VMO khususnya pada kasus-kasus nyeri lutut yang mempunyai indikasi kelemahan otot VMO, 
beberapa penelitian menunjukkan pada Patello Femoral Pain Syndrome (PFPS) ditemukan adanya atropi otot Vastus Medial Oblique (Starischka, 2013), kelemahan VMO selalu berkaitan dengan PFPS sehingga pemberian terapi meliputi penguatan otot VMO ditujukan untuk koreksi lateral tracking pada patella, ketidakseimbangan kekuatan kontraksi dan onset akivasi antara VMO dan Vastus Lateral (VL) juga dapat menyebabkan abnormal tracking pada patella, kekuatan kontraksi antar kedua otot yang tidak seimbang dan onset aktivasi dari kedua otot yang tidak serentak ini merupakan penyebab yang biasa dijumpai pada PFPS (Kushion et al, 2012). 

 Ketidakseimbangan kontraksi antara VMO dan VL menyebabkan gaya Tarik quadriceps lebih kearah lateral sehingga sudut Quadriceps (Q angle) menjadi lebih besar (Sokhangooei et al, 2010). Kurangnya daya kontraksi pada otot VMO akan meningkatkan gaya tarik quadriceps kearah lateral dan meningkatkan Q angle (Merchant, 2011). Q angle merupakan gaya resultan dari otot quadriceps terhadap garis tegak (alignment) ligament patella, biasanya pada pemeriksaan klinis dilakukan dengan membuat garis imaginer dari anterior superior iliac spine (ASIS) ke titik tengah patella dan garis imaginer dari tuberculus tibia ke titik tengah patella, nilai normal Q angle bervariasi antara 10 sampai dengan 14 derajat untuk pria sedangkan untuk wanita besar sudut Q angle antara 14 sampai 17 derajat, besarnya sudut Q angle pada wanita disebabkan oleh lebar panggul yang cenderung lebih lebar dibanding pria, pendeknya tulang femur dan posisi leher femur cenderung ante-version, karena itu wanita cenderung lebih sering mengalami masalah patella-femoral atau nyeri lutut (Sokhangooei, 2010).
Dikarenakan perbedaan Onset aktivasi quadriceps dan pebedaan signifikan kontraksi otot VMO pada pemberian metode Closed Kinetic Chain (CKC) dan Open Kinetic Chain (OKC),  serta masih banyaknya penggunaan metode CKC dan OKC pada pusat kebugaran fitness center dan klinik Rehabilitasi Fisioterapi, menimbulkan permasalahan dan pertanyaan baru mengenai efek kedua metode terhadap resiko peningkatan sudut Quadriceps (Q angle). Hal ini dianggap perlu diteliti lebih lanjut dikarenakan meningkatnya Q angle melebihi batas nilai normal dapat menimbulkan permasalahan pada sendi lutut, dengan pemberian latihan penguatan quadriceps menggunakan metode CKC dan OKC akan di ketahui metode manakah yang lebih tidak beresiko meningkatkan sudut Quadriceps (Q angle), sehingga pada akhirnya pembaca baik terapis ataupun pelaku olahraga dapat memilih dengan cerdas dan tepat metode yang akan diterapkan atau dilakukan.

 Q Angle

Q angle adalah indikator biomekanik penting pada ekstremitas bawah dalam memberikan informasi mengenai posisi tegak (alignment) panggul, tungkai bawah dan kaki, khususnya bagi pasien yang merupakan pelaku olahraga, baik olahraga yang bersifat kompetisi ataupun rekreasi (Charrette, 2013). Q angle dikenalkan oleh Brattstrom pada tahun 1964, Q angle didefinisikan sebagai sudut patella yang terbentuk antara ligamentum patella dan garis lurus dari resultan gaya tarik quadriceps, selanjutnya pengukuran Q angle didasarkan pada dua garis imaginer dari Anterior Superior Iliac spine (ASIS) dan garis imaginer dari ligamentum patella (tuberculum tibia yang bertemu pada itik tengah patella, meningkatnya Q angle merupakan indikasi dari misalignmen mekanisme ekstensor yang berkaitan erat dengan Patello Femoral Pain Syndrome (PFPS), hipermobil sendi lutut dan instabilitas patella (Raveendranath et al, 2011). 









Dalam penelitian yang dilakukan oleh Raveendranath et al mengenai perbedaan Q angle antara sendi lutut kanan dan sendi lutut kiri pada 50 subyek pria dan 50 subyek wanita sehat di India didapatkan hasil rerata Q angle sendi lutut kanan sebesar 12,86 derajat dan rerata Q angle sendi lutut kiri sebesar 12,60 derajat. Nilai normal Q angle bervariasi antara 10 sampai dengan 14 derajat untuk pria sedangkan untuk wanita besar sudut Q angle antara 14 sampai 17 derajat, besarnya sudut Q angle pada wanita disebabkan oleh panggul yang cenderung lebih lebar dibanding pria, pendeknya tulang femur dan posisi leher femur cenderung ante-version, karena itu wanita cenderung lebih sering mengalami masalah patella-femoral atau nyeri lutut (Sokhangooei, 2010). Pengukuran Q angle dapat dilakukan dengan menggunakan metode radiographic atau goniometer (Belchior et al, 2006). Ferro et al pada penelitian reabilitas dan validitas antara penggunaan Eectronic Inclinometer dan Standart Goniometer dalam pengukuran Q angle didapatkan hasil tidak ada perbedaan signifikan (Ferro at al, 2010). Perbedaan Q angle pada subyek yang menderita patellofemoral disorder (PFD) dan subyek sehat dengan menggunakan alat radiologi ditemukan perbedaan Q angle yang signifikan, dimana pada subyek PFD didapat nilai rerata Q angle sebesar 21,45 derajat sedangkan pada subyek sehat rerata nilai Q angle sebesar 17,15 derajat (belchior et al 2006).